Mahasiswa sebagai agent
Mahasiswa adalah seseorang yang tengah menikmati pendidikan di salah satu lembaga tinggi yang sering kita sebut dengan istilah universitas atau perguruan tinggi dalam beberapa waktu yang sudah ditentukan. Di lembaga inilah mereka belajar berpikir, belajar untuk mandiri, juga memecahkan masalah dengan cerdas setelahnya tidak memunculkan masalah berikutnya.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri lalu dengan gagahnya mengusir penjahat-penjahat dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat. Dalam artian kita tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas.
Sadar atau tidak, telah banyak pembodohan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Kita sebagai mahasiswa seharusnya berpikir untuk mengembalikan dan mengubah semua ini. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan kearah yang positif dan tidak menghilangkan jati diri kita sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia. Namun untuk mengubah sebuah negara, hal utama yang harus dirubah terlebih dahulu adalah diri sendiri.
Mahasiswa sebagai tingkatan masyarakat yanglebih tinggi daripada siswa, memiliki 4 peran fungsimahasiswa yang belum memiliki kepentingankhusus dalam bidang golongan, partai politik,ataupun organisasi masyarakat [6]. Mahasiswasebagai masyarakat yang memiliki idealisme tinggiyang diharapkan dapat menjadi lidah penyambungantara masyarakat dan pihak pemerintah.
Agent of Change
(Generasi Perubahan)Sebagai generasi perubahan, mahasiswadiharapkan dapat membawa perubahan terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungansekitar. Mahasiswa diharuskan memilikikesadaran sosial dan kematangan berpikir yangkritis.
Social Control
(Generasi Pengontrol)Sebagai generasi pengontrol, mahasiswadiharapkan dapat mengendalikan keadaan sosialyang ada di lingkungan sekitar. Dimana,mahasiswa dituntut untuk bersosialisasi danmemiliki kepekaan terhadap lingkungan.
Iron Stock
(Generasi Penerus)Sebagai generasi penerus, mahasiswadiharapkan dapat menjadi tonggakkepemimpinan di masa mendatang..
Moral Force
(Gerakan Moral)Sebagai penggerak moral, mahasiswadiharapkan dapat menjaga stabilitas moral dilingkungan masyakarat
ada era reformasi ini mahasiswa cenderung melupakan peran nya sebagai agen perubahan. Sering kita melihat mahasiswa justru menjadi ‘penyebab’ kerusakan moral pada saat ini. Narkoba, seks bebas, judi, PSK dll, sudah kerap dikait-kait kan dengan mahasiswa. Hal ini disebabkan oleh arus perkembangan tekonologi yang sangat canggih, sehingga saat ini mahasiswa mulai terlena dan melupakan tugasnya sebagai pemegang estafet kepemimpinan bangsa. Hal ini merupakan tamparan keras bagi bangsa ini karena calon penerus bangsa justru berprilaku menyimpang. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka dapat dipastikan mahasiswa semakin jauh dari nilai-nilai pancasila yang sudah menjadi ideologi bangsa ini sejak dulu.
Mahasiswa juga diharapkan menjadi garda terdepan dalam mengawal setiap kebijakan pemerintah yang manyulitkan rakyat kecil. Sebagai contoh kenaikan BBM, dapat kita lihat bersama di berita baik koran maupun teve, mahasiswa gencar melakukan demonstrasi massal menuntut pemerintah untuk membatalkan kebijakan tersebut. Mahasiswa menilai hal ini akan berdampak buruk bagi setiap sektor kehidupan. Semua barang tentu akan naik juga seiring dengan naiknya harga BBM. Tentu hal ini akan menyulitkan rakyat yang memiliki ekonomi menengah kebawah. Akan tetapi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa bukan merupakan aksi damai yang seharusnya mereka lakukan. Tindakan anarkis, baik merusak fasilitas jalan, kantor dan bahkan melakukan kekerasan dilakukan oleh mahasiswa ketika melakukan demonstrasi. Tentu ini akan berdampak pada citra mahasiswa itu sendiri, bukannya memikirkan rakyat malah menghancurkan harapan rakyat.
Kehadiran mahasiswa sebagai perpanjangan aspirasi rakyat memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi. Secara umum, gerakan advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam peran yang itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas kepeduliannya terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak bagi perbaikan kualitas hidup bangsa. Dengan demikian, segala ragam bentuk gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa lebih merupakan kerangka koreksi/kontrol atas perilaku-perilaku politik (penguasa) yang dirasakan telah mengalami distorsi dan meninggalkan jauh komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyat. Oleh sebab itu, peranan Mahasiswa menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat
enikaman dan kebisuan untuk mengungkap tabir dan kurangnya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi menimbulkan gejolak yang buruk bagi pemerintah RI. Perilaku Korupsi,Kolusi dan Nepotisme (KKN) merajalela pada saat itu. Hal ini membuat geram para mahasiswa untuk bertindak tangan mengatasi permasalahan yang terjadi. Kebodohan yang dilakukan rezim soeharto mengenai kebijakan kontrol pusat yang sangat keras. Pengetahuan dibelokan dari fakta sejarah agar semua rakyat tidak melakukan radikalisme terhadap pemerintah.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/fredisetyono/peran-mahasiswa-sebagai-agent-of-change_54f836dca3331163648b4bc8
Role Model Aktivis Mahasiswa Ideal
Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak,namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa.Semangat-semangat yang berkobar terpatri dalam diri mahasiswa, semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan peruba-han-perubahan atas keadaan yang dianggapnya tidak adil.Mimpi-mimpi besar akan bangsanya. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukanidealisme. Mahasiswa tahu, ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya.Mahasiswa senantiasa menjadi motor penggerak perubahan. Keinginan yang kuat dalammenyongsong masa depan dan keterbukaannya melihat beragam sisi kehidupan, mendorongmahasiswa bangkit dari tiap keterpurukan. Kecekatan bekerja dan kekritisan berfikir yang
disertai rasa tanggung jawab, menjadi penyejuk bagi zaman yang kian “edan”. Tak berlebihan jika istilah “pemuda adalah tulang punggung bangsa” selalu jadi pedoman. Dengan kombinasi
luar biasa yang dimilikinya, mahasiswa mampu tampil di depan memegang kendali sebuah peradaban. Dalam hal ini, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu :
Sebagai penyampai kebenaran (agent of social control)
Sebagai agen perubahan (agent of change)
Sebagai generasi penerus masa depan (iron stock)Itulah peran ideal mahasiswa. Ia memiliki posisi sentral dan setrategis. Semua bangsa didunia mengakui semangat pemuda sebagai sumber daya bangsa yang mampu mengerjakan hal-hal luar biasa termasuk sebagai faktor perubahan fundamental. Maka investasi terbesar yangharus dilakukan suatu bangsa demi kejayaan dan kemajuan di masa mendatang adalah
mahasiswa. Bahkan Taufik Ismail pernah mengatakan, “Mahasiswa takut pada dosen, Dosen
takut pada Dekan, Dekan takut pada Rektor, Rektor takut pada Menteri, Menteri takut pada
Presiden, Presiden takut pada Mahasiswa.”
Memahami kenyataan tersebut, maka sudah selayaknya para mahasiswa Muslim mengupayakan dirinya agar mampu seperti sosok para Shahabat Rasulullah dan menjadikan Islam sebagai ideology yang mengarahkan gerak dan langkah mereka dalam mengubah, mengarahkan dan memimpin. Islam yang tidak hanya sebagai pengatur urusan ritual semata, tapi sebagai pengatur semua sendi kehidupan. Sehingga idealnya dalam setiap teriakannya, para mahasiswa meneriakkan perubahan kondisi kepada “supaya dijadikannya Islam sebagai pengatur urusan kehidupan manusia”. Hal ini tentu dengan tidak menafikan amanah mereka sebagai mahasiswa yang tetap harus menseriusi bidang yang ditekuninya di Perguruan Tinggi. Tak harus menjadi nomer wahid, tetapi ia harus mampu mengarahkan potensi yang ia miliki secara individu dengan benar sesuai arah pandang Islam untuk bisa memberikan manfaat kepada masyarakat walaupun kecil.
Maka, mahasiswa ideal adalah Mahasiswa Ideologis dan mampu melakukan “something” untuk kemaslahatan masyarakat walaupun kecil sesuai arah pandang Islam.
“Mahasiswa Indonesia memiliki cita-cita khusus dalam menunaikan tugas masa depannya yaitu mahasiswa dibentuk menjadi : (1) orang yang berjiwa bangsa Indonesia; (2) orang yang berbudaya Indonesia; (3) orang yang mempunyai dasar dan kenyataan hidup yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, dan demokratis; (4) orang yang mempunyai kecakapan dan kesiapan untuk menunaikan pertanggunganjawaban terhadap pembangunan, pemeliharaan dan perkembangan kebudayaan dan hidup kemasyarakatan, agar tercapai kebahagiaan dan kesejahteraan bangsa dan negara khususnya dan dunia pada umumnya. Terkait dengan cita-cita yang keempat, bahwa mahasiswa yang diharapkan bangsa adalah mahasiswa yang tidak lagi cemas dengan dirinya sendiri, tetapi cemas dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, mahasiswa diarahkan bagaimana menuntut ilmu untuk mengembangkan dan menerapkan ilmunya bagi keadaban, kemanfaatan, dan kebahagiaan bangsa. Dalam kehidupan di masyarakat, mahasiswa diharapkan menjadi problem solver. Lebih jauh lagi, selain menjadi problem solver bagi lingkungannya, mahasiswa diharapkan dapat menjadi trend setter dan role model dalam kemajuan dan inovasi yang mempertimbangkan kearifan lokal (Anonim, 2011a)”. “Di tengah masih banyaknya persoalan sosial ekonomi di negeri ini, dampak dari kemiskinan yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai semakin membebani khususnya masyarakat pesisir pantai dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dampak dari kemiskinan umumnya berkembang menjadi masalah sosial, seperti pengangguran, kerentanan (vulnerability) dan menurunnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Bagi sebagian masyarakat pesisir pantai hal ini menyebabkan hilangnya jaminan masa depan (Bengen, 2001)”.
Sumber
http://medina-nugraha.blogspot.co.id/2014/01/peran-mahasiswa-sebagai-agent-of-change.html
http://www.bunghatta.ac.id/artikel-230-mahasiswa-sebagai-agent-of-change.html
https://www.academia.edu/4070348/Role_Model_Aktivis_Mahasiswa_Ideal
http://linazhakiezz.blogspot.co.id/2013/10/role-model-mahasiswa-ideal.html
http://bolaangs.blogspot.co.id/2012/04/peran-mahasiswa-sebagai-problem-solver.html